Hawa panas di malam hari menyeruak di semua tempat. Semula ku kira, saat malam menjelang, udara akan lebih bersahabat. Tapi dugaanku meleset. Rasanya ingin menceburkan diri ke dalam kolam berisi air es ditambah teh dan gula, saat itu juga, aku yakin peribahasa yang berbunyi 'sambil menyelam minum air' benar adanya *eh.
Yak, warasnya cukup.
Malem ini, entah kenapa gue memulai tulisan dalam post ini dengan bersenandung ria layaknya penulis profesional. Gue rasa gara-gara efek baca novel jadinya begini. Gara-gara si Tuti nih ngopy paste novel yang dia dapet di internet ke data gue di laptop. Tiap buka laptop, bawaannya pengen baca mulu jadinya kan! Errrrrrr~ *banting laptop* *eh, gajadi deh*
Udah beberapa minggu nggak nge-post nih, maaf ya bloggy :)
Gue yang notabene nya sadar, gak ada yang mau baca blog gue, tetep aja keukeuh minta maaf sama pembaca khayalan yang gue panggil bloggy :(
Back to the title. Kali ini, gue pengen cerita gimana ngeboseninnya mata kuliah Psikologi Pendidikan 3 SKS. 3 SKS coy, 3 SKS!! Piso mana, pisoooooo?
Kebosanan iu menerjang bukan karena pelajarannya, tapi lebih disebabkan dosen gue yang benar-benar freak!
Gue hanya akan menyebutkan inisial nama dari dosen tersebut dan nggak menyebutkan jenis kelaminnya demi menghormati harkat dan martabat dosen tersebut.
Jam menunjukkan pukul 7.30 am waktu sang dosen yang berinisial NA masuk. Hari itu, kelompok 2 kebagian tugas sebagai pemakalah dengan tema 'Pertumbuhan, Perkembangan dan Kematangan'. Saat dosen tersebut memasuki kelas, hati gue berdebar-debar, gue takut kejadian minggu kemarin terulang kembali, dimana sang pemakalah yang saat itu juga baru membuka slide pertama, baru akan menerangkan kepada gue beserta teman-teman gue yang lain. Disaat itu juga, dosen NA mengomentari bahwa isi makalah mereka salah, beliau berkata 'Saya nggak menyalahi makalah kalian kok". Eh dosen, kalo bukan nyalahin, terus apa namanyaaaaaaaaa?
Kembali ke hari Kamis (22/03) kemarin, gue duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Disitu gue berkoalisi dengan Ebi dan Abil, yang pada dasarnya mengalami kerusakan pada otak besar, yang menyebabkan mereka terlihat normal dari luar dan cacat dari dalam. Gue nggak melebih-lebihkan kecacatan mereka, tapi memang benar adanya.
Waktu itu, sang dosen meminta contoh, apa saja yang dilakukan seorang murid TK untuk perkembangan kognitif dan psikomotorik. Dengan menggebu-gebu Abil berseru, "Membuat origami!". Tak mau kalah, teman gue yang bernama Mari menyebutkan beberapa kegiatan anak TK seperti mewarnai, memegang alat makan, dsb. Dengan tak kalah menggebunya, gue berseru "Ngupilin idung temen!". Perkataan gue barusan lebih tertuju pada Ebi dan Abil. Sontak, mereka bukannya memandang aneh ke arah gue, tapi mereka malah nambah-nambahin. Gue cuma bisa melakukan gerakan 'muka jelek ala Abil' (Setelahnya, akan gue singkat menjadi MJAA --> muka jelek ala Abil), dengan cara memutar-mutar bibir lo searah jarum jam, berlawanan jarum juga boleh kok.
Saat kita lagi cekikikan, tertawa dalam dunia kita sendiri, tanpa ingin orang lain masuk ke dalam jurang kenistaan yang telah kita masuki terlebih dahulu, Ebi dan gue yang suka banget sama MJAA, terus menerus memaksa Abil melakukan gerakan MJAA. Dengan terpaksa Abil mengikuti, setelah itu dengan tiba-tiba, Abil yang memasang muka diam, mengembangkan senyum sedikit demi sedikit sampai benar-benar nggak bisa ngembang lagi, ditambah dengan push-up nya sang hidung yang menambah kesan 'Gede kan idung gue?'. Senyumnya bukan senyum biasa, senyumnya seperti menunjukkan hasrat terdalam yang ada dalam dirinya tanpa kata-kata, hasrat ingin menguras semua kotoran dalam hidung dengan menggunakan ujung jari telunjuk Justin Bieber, disertai dengan hasrat ingin pipis dan hasrat kelaparan menjadi satu.
Gue sama Ebi sangat tersiksa saat itu juga, karena harus tertawa tanpa mengeluarkan efek keributan di kelas. Masih dengan senyum mengembang, Abil mengacungkan jari telunjuknya dengan bernafsu dan mulai menggoyang-goyangkan telunjuknya seperti orang mengupil. Yak, itulah tarian upil buatan Abil.
Kembangkan senyuman dan hidung anda.
Acungkan jari telunjuk.
Goyang-goyang jari telunjuk sedikit demi sedikit.
Masukkan salah satu lobang hidung ke dalam telunjuk sambil terus digoyangkan.
Seketika itu, gue dan Ebi bertekad untuk menguasai tarian upil tersebut. Jadilah Abil sebagai guru besar buat kita. Gue yang sedikit demi sedikit bisa meniru tarian upil, di acungi jempol oleh sang guru. Sedangkan Ebi, berusaha keras terlihat mirip seperti muka Abil, tapi tetap tak berhasil. Mukanya lebih terlihat seperti kucing cepirit.
Kecacatan yang kita lakukan, membuat 3 SKS terasa seperti 3 tahun *eh.
Kegilaan nggak cuma sampe disitu. Waktu mata kuliah Psikologi Pendidikan berakhir, saat kita akan turun ke lobby, seperti biasa gue dan teman-teman naik lift. Di dalam lift, rata-rata isinya anak-anak sekelas. Sambil masih terkekeh akibat tarian upil, gue terus menerus melakukan gerakan 'kembangkan senyuman dan hidung anda', sambil berseru 'waaaaa', layaknya badut tolol yang sedang menghibur seorang anak kecil, yang malah lebih terkesan menakut-nakuti anak tersebut. *Bego banget deh itu badut*
Pikiran Donny, teman gue yang cacat tapi pinter, mengusulkan untuk melakukan apa yang gue lakuin barusan waktu pintu lift kebuka.
Yang lain pun menyetujui.
Setiap pintu lift kebuka, kita semua melakukan gerakan 'kembangkan senyuman dan hidung anda' dan berkata 'waaaaaaaaaaa'. Jadilah, orang-orang yang mau naik lift mengurungkan niat karena nggak mau ketularan Abil *loh?* Orang-orang tersebut ada yang pasang muka bingung, muka kaget, muka ketakutan, sampe muka jahat, yang gue yakin, dalam hatinya dia pengen banget nyentilin idung kita satu-satu.

maap ya bund gua masih newbie tapi udah kritik aja, -__-
ReplyDeletesetiap artikel lu di krop minimal setengah atau seperempatnya bund supaya di home engga ngebleber kepanjangan, jadi setiap artikelnya dibuat ada tulisanya "baca selengkapnya..." kaya gitu bund,
bhaha iya de, kritiknya di tampung. udah tuh :p
Delete